Pokoknya tak mau melewatkan satu momen pun tanpa kutulis. Penting ga penting yang penting nulis…
Pertama kali mengenal sosok dia yang kini menjadi suamiku sekitar tingkat 3 saat kuliah dulu, itu pun samar-samar bahkan wajahnya pun tak hafal. Yang kudengar dari orang-orang , dia adalah mahasiswa paling pintar di jurusannya dengan indeks prestasi tiap semester hampir selalu menyentuh angka 4.00, nyaris sempurna. Yang kudengar lagi dia dulu adalah peraih medali di olimpiade internasional. Yang kudengar lagi…selalu saja tentang prestasi akademiknya yang selalu luar biasa…
Sampai suatu saat salah seorang temanku mengajakku bergabung dalam salah satu grup penelitian di mana ketuanya adalah dia. Hah? Itulah ekspresiku saat membaca proposalnya. Memang kalau orang kayak gini idenya selalu extraordinary yah?…Singkat cerita penelitian yang ini belum berhasil. Hingga akhirnya kami kembali membentuk grup penelitian untuk salah satu lomba, dan untuk ide yang ini kami berhasil menjadi juara.
Itulah sekelumit kisah pertemuan kami. Bagiku biasa saja,nothing special, selain kekagumanku bahwa memang dia ini otaknya mendekati jenius. Sampai akhirnya suatu proses baru dimulai. Proses yang cukup panjang dikarenakan perbedaan persepsi. Hanya saja aku mendapat pelajaran berharga yang bisa ku-share dengan yang lain, kalau menolak ikhwan maka katakanlah, “Maaf saya tidak mau menikah denganmu”. Jangan mengatakan, “Maaf saya belum siap menikah”. Heu…
Proses ta’aruf yang jauh dari bayangan idealku. Tak menyangka akan menjalaninya dengan seseorang yang sudah kukenal, bahkan seseorang yang pernah menjadi partner penelitian. Tiap tahapan proses selalu kudiskusikan dengan orang tua. Lucu sekali, saat akhirnya memutuskan untuk melangkah ,mamah melakukan shalat istikharah, qodarullah saat itu mamah mendapat mimpi, yang katanya dalam mimpi itu mamah melihat dua buah batu bata yang menempel. Mamah bilang mungkin kami ini memang jodoh, bisa jadi maksudnya batu bata itu adalah pertanda akan membangun, yaitu membangun rumah tangga. Wallahua’lam. Bismillah, kami pun saling bertukar biodata dan melakukan pertemuan.
Satu pekan setelah pertemuan itu aku diminta memberikan jawaban akan lanjut atau tidak. Lagi-lagi keraguan muncul, dan lagi-lagi mamah shalat istikharah dan kembali bermimpi. Katanya mamah mimpi melihat undangan pernikahan, hanya saja undangannya cuma terbuat dari kertas putih dan diprint biasa. Akhirnya, aku putuskan kembali maju. Kalau aku sendiri, setelah istikharah hanya mengandalkan kemantapan hati, selebihnya kupasrahkan kepada Allah, kalau bukan jodoh yah ga akan jadi.
Sempat terbersit di pikiranku, aduh jangan-jangan kalau nikah sama orang ini tiap hari yang diomongin penelitian, atau jangan-jangan nanti dikacangin terus karena dia sibuk baca buku, huh betapa akan sangat membosankannya. Maju mundur maju mundur, begitulah hatiku. Tiap kali kukatakan pada mamah, “Mah, kok belum suka ya, ga jadi aja deh”. Selalu seperti itu, dan mamah akan mencoba menenangkan,” Nanti juga kalau udah jadi suami mah bakal suka.”…..
Sampai akhirnya, 18 Juli 2010 dia mengkhitbahku, dan jadwal pernikahan baru akan disepakati satelah aku beres sidang. Syukur Alhamdulillah, setelah khitbah itu hatiku mulai tentram, terlebih pikiranku lebih terkuras untuk memikirkan skripsi, seminar, dan sidang sarjana.
Saking ga memikirkan urusan nikah ini, persiapan nikah pun jadi ga karuan, bahkan semua hal mulai dari yang besar sampai tektek bengek semuanya disiapkan oleh orang tua. Awalnya aku hanya ingin melangsungkan akad saja, tanpa harus ba bi bu ba bi bu sewa ini sewa itu, atau undang ini undang itu. Tapi ternyata sulit karena ga mungkin kalau ga ngundang teman apalagi keluarga, secara teman kami lumayan banyak dan kaluargaku adalah keluarga yang super besar. Alhasil diputuskan untuk mengadakan walimah dengan konsep yang super sederhana dan serba dadakan. Bahkan saking dadakannya, undangan pun tak cukup hingga akhirnya Apa mengetik undangan sendiri di kertas HVS. Melihat itu rasanya geli sekali, jadi teringat mimpi mamah saat proses awal ta’aruf dulu. Subhanallah, semuanya memang kehendak Allah.
Kami menikah tepat satu pekan setelah aku sidang sarjana, yaitu tanggal 9 Oktober 2010. Dengan menggunakan lafal bahasa Arab, proses ijab qobul lancar dan khidmat. Pernikahan kami yang sederhana itu pun dihadiri ratusan orang yang mendokan kami. Tapi saking kikuknya, ketika duduk di pelaminan tampaknya kami adalah pasangan pengantin yang paling aneh sejagad raya ( haah lebaay…). Kami duduk berdampingan dengan jarak hampir 100 cm, tidak ada foto mesra apalagi foto berbagai gaya seperti layaknya pengantin lain.
Setelah beberapa hari menikah barulah aku menyadari betapa ajaibnya takdir Allah itu. Aku semakin terkejut-kejut ketika menyadari bahwa orang yang menjadi suamiku percis seperti apa yang senantiasa kuminta kepada Allah dalam doa-doaku. Kami memiliki karakter yang hampir bertolak belakang. Dulu kupikir akan sangat menyenangkan memiliki suami dengan karakter a b c d,dst. Tapi Allah Maha Tahu, dengan karakter kami yang seperti ini, kehidupan kami menjadi lebih berwarna. Yang pastinya cita-citaku punya suami super pintar seperti ensiklopedi berjalan kesampaian juga (hadeeuh ga penting yak…).
Yaa Allah berkahilah kami dan kumpulkanlah kami dalam kebaikan di dunia dan di akhirat. Aamiin.



